Menurut hemat saya, sedikitnya seorang guru memiliki 2 tugas :
1. Transferer Ilmu
2. Memberi teladan
Sebagai pengajar, seorang guru mentransfer ilmu yang dimilikinya kepada pencari ilmu. Umur manusia yang terbatas jelas tak akan cukup untuk membuka berbagai rahasia ilmu di dunia. Di sinilah guru memainkan perannya untuk tetap memastikan ilmu yang sudah ditemukan oleh generasi-generasi sebelumnya diterima dengan lengkap oleh generasi berikutnya. Sehingga generasi selanjutnya tidak perlu mengulang dari awal untuk mencari ilmu yang dulu sudah ditemukan. Dan pada akhirnya, setiap generasi selanjutnya hanya tinggal mengembangkan apa yang sudah ada. Hal ini penting agar ilmu yang disalurkan juga tetap utuh. Jangan sampai warisan ilmu yang kita miliki hilang dan malah diambil oleh umat lain. Seperti, Al Farabi, ahli musik dan filsafat Yunani, yang salah satu karya terbesarnya dijiplak bebas oleh Thomas Aquinas, filsuf dan teolog asal Italia.
Selain transfer ilmu, guru pun bertugas untuk menanamkan ajaran moral melalui keteladanan. Poin inilah yang membedakan seorang guru dengan setumpuk buku. Keteladanan merupakan harga mati yang harus dilakukan oleh seorang guru. Hal inilah yang menjadi ruh dalam proses belajar mengajar. Tanpa keteladanan, peserta didik akan kesulitan untuk menerima transfer ilmu secara lengkap. Seperti kata pepatah, "perbuatan seseorang dihadapan seribu orang lebih efektif daripada slogan seribu orang dihadapan seseorang." Ya, hanya sekedar mumpuni dalam bidang pendidikannya tidak cukup untuk menjadi seorang guru. Gelar yang tinggi dan mentereng bukanlah syarat utama.Yang terpenting adalah bagaimana seorang peserta didik tidak hanya memiliki kecerdasan akademik saja, tetapi meminjam istilah dari Pak Satria Hadi Lubis, seorang peserta didik juga harus dibekali dengan kecerdasan relijius-moralitas. Hal ini pulalah yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat, dan dari para sahabat kepada generasi tabi'in dan tabit tabi'in setelahnya.
Sehingga tidak heran apabila pada masa kejayaannya dulu, Islam memiliki banyak nama-nama ilmuwan dengan otak yang cemerlang namun juga bermoral baik. Bahkan banyak pula yang tidak hanya ahli dalam satu bidang ilmu saja. Ambil contoh, Abul Qasim Maslamah bin Ahmad Al-Majriti seorang astronom, alkimiawan, matematikawan, dan ulama Arab Islam dari Al-Andalus. Belum lagi Ibnu Sina, Al-khawarizmi dan Al-ghazali. Ironisnya, sekarang ini mendapat titel sebagai guru mudahnya seperti membalik telapak tangan. Akibatnya, banyak guru yang ada, tetapi minim kualitas. Kalau begini kondisinya, ya jangan harap dapat melahirkan generasi-generasi pembangun peradaban. Wallahu 'alam bishshowwab.








Comments