Bagai pohon tak berbuah. Mungkin kalimat ini lebih familiar bagi kita. Tapi bermakna kira-kira sama. Ya, saatnya kita mulai melangkah lebih jauh. Tak sekedar memiliki dan menjaga ilmu, kita juga sudah harus melihat manfaat berilmu. Minimal dalam tataran individu.
Bagai pohon tak berbuah. Ya, tak ada yang bisa dipetik darinya, dari pohon ilmu itu, jika tak ada amal dan kerja nyata. Tak ada manfaat, tak ada manisnya ilmu yang bisa direguk tanpa gerak riil. Seperti kita tau, ilmu itu berdaya, dia bekerja, dengan cahaya. Cahaya itu berdaya, gelap pun meniada dengan adanya cahaya. Itulah fitrah ilmu, bergerak, dan harusnya dia juga bisa memberi gerak.
Bagai lebah tak bermadu. Gerak, itulah yang membuat lebah bisa menghasilkan madu. Kerja, dari sinilah tetesan-tetesan madu itu bersumber. Jika gerak dan kerja itu tiada, maka madu pun tiada.
Begitulah. Ilmu tanpa amal, ilmu tanpa gerak, ilmu tanpa kerja, maka artinya adalah ilmu tanpa manfaat. Apalah artinya ilmu yang ada di dada seseorang, jika ilmu itu tak menggerakkannya. Jika dia tiada mau tuk bekerja berdasar ilmu yang dimilikinya, maka tentu tak ada manfaat yang bisa dirasa manisnya.
Bagai lebah tak bermadu. Bagai pohon tak berbuah. Ada yang kurang sreg dengan perumpamaan ini? Jika ada, maka kita sama. Saya kurang puas dengan perumpamaan ini. Kenapa?
Saya pikir kita akan sependapat bahwa pohon yang tak berbuah itu masih bermanfaat. Pun, ketika saya katakan lebah yang tak bermadu itu masih bisa memberi manfaat, anggukan kepala pun kan menyambutnya. Pohon itu, masih ikut berkontribusi dalam menyejukkan, menaungi. Lebah itu, sengatnya kini bermanfaat untuk terapi.
Lalu, bagaimana orang yang berilmu tapi tak bekerja, beramal, dan tanpa gerak? Saya kira kita pun akan sekata bahwa itu lebih rendah dari pohon tak berbuah, dan lebih sia-sia dari lebah tak bermadu.
Tapi jangan langsung menghakimi sebuah perumpamaan. Saya yakin, perumpamaan ini lahir dari lisan yang tak sembarangan mengata. Sungguh arif, pikirku. Karena tidak ada seorang pun manusia yang tidak memanfaatkan ilmunya seratus persen. Sepakat? Kadar pemanfaatan itulah yang membuatnya berbeda. Dari sudut pandang inilah dua perumpamaan ini lahir.
Begini, manfaat puncak yang bisa dihasilkan pohon, yang bisa dirasakan langsung oleh manusia, adalah buahnya. Begitu pula lebah, puncak manfaat dari dirinya adalah ketika dia bisa menghasilkan madu. Dan tentu, itu dengan memaksimalkan seluruh potensi dan kemampuan yang melekat pada dirinya. Pun seorang manusia, dia akan menghasilkan sampai di puncak manfaatnya, kala dia sudah memaksimalkan ilmunya. Saat itulah dia meraih predikat, “manusia yang paling banyak manfaatnya”.









Comments