Buku. Bukan toko. Bukulah sumber cahaya itu. Bukulah pahat yang mengerat dan mengupas kulit kayu tembok kehidupan. Hingga jadilah ia cerah. Jadilah ia luas.
Tentu kita mafhum, bahwa buku adalah sumber ilmu. Sumber di mana kita mendapatkan tetesan sejuk air puas kala dahaga keingintahuan membuncah. Bahkan dialah hidangan penutup, kala kita ‘merasa’ sudah kenyang. Tetap terasa nikmat. Bahkan ‘kenyang’ itu, adalah energi yang membuat cahaya itu nyala senantiasa. Kita tetap merasakan manfaatnya. Tapi buku, lebih dari itu. Jika kenyang tak dapat dibagi, maka kenyang akan ilmu, bisa dan harus dibagi –meski tak ada istilah kenyang akannya.
Tentu kita mafhum, bahwa bukulah pahat itu. Membuang tempurung yang dulu mengangkangi pikiran, mengikis batas-batas spesialisasi, mengerat dinding teritorial. Kepicikan pikiran akan terbuka, manusia tak akan terpaku pada satu ilmu, dan teritorial dengan gagah dapat dihancurkan. Dengan buku yang dibaca.
Cahaya itu sudah ada secara fitrah dalam diri manusia. Ada modal ilmu yang dititipkan pada kita. Lebih dari itu, kita juga dititipi kemampuan untuk menjaga, mencerahkan, dan meluaskannya. Tiga yang terakhir ini, ada di luar diri kita, eksplisit. Jika yang pertama ‘diletakkan’ pada kita, tiga terakhir harus diusahakan oleh kita.
Apapun akan hidup jika kerja. Juga buku, dialah benda. Bagaimana dia bisa mengerja? Mencerahkan dan meluaskan, bagaimana agar dia mampu? Tetap, yang hiduplah yang menghidupkan. Kita, manusia. Memberi kemampuan mengerja pada buku, agar buku mampu memberi cercah cerah dan meluaskan sempat, adalah tugas kita. Kita harus membacanya.
Buku dan baca. Baca buku. Inilah yang sejatinya “enlightening minds, expanding horizons”. Kerja itu menghasilkan. Baca itu kerja, hasilnya adalah enlightened minds, expanded horizons. Pikiran yang tercerahkan, wawasan yang terluaskan. Ayo baca, baca buku. Kerja inilah, mempunyai peran, minimal, sebagai Sang Penjaga Ilmu.









Comments