“…jika kau bersyukur, maka akan Kutambah…”
“jenius itu adalah kebodohan yang teraplikasikan dengan baik”
Saya yakin kita sudah sama-sama pernah mendengar, membaca, dan mengetahui tentang konsep syukur. Pun ini, kalimat Sayyidina Umar, tentu sudah tak asing lagi. “Jika sabar dan syukur itu adalah dua kuda tunggangan,” begitu beliau berujar, “maka aku tidak peduli aku harus mengendarai yang mana”. Ya, Begitulah. Bahkan sang Rasul pun bersabda, “Luar biasa urusan muslim! Jika dia ditimpa anugerah dia bersyukur, dan syukur itu luar biasa baginya. Jika ia dianugerahi musibah, dia bersabar, dan sabar itu luar biasa baik baginya.”
“Sabar ketika ditimpa nikmat itu,” seperti ini kalimat yang pernah saya dengar, “lebih sulit dari pada sabar dikala dianugerahi musibah”. Ya, ujian sesungguhnya adalah ketika kita diberi pilihan yang manakala kita pilih salah satunya, kita tidak bangkrut dengan sesungguh-sungguh bangkrut. Jika kita dianugerahi musibah, maka ketika bisa sabar, kita beroleh kebaikan. Tapi jika kita tidak sabar, maka kita bangkrut dengan sesungguh-sungguhnya. Sudah dianugerahi musibah, tak sabar pula. Oleh karena itu, sabar ketika musibah dianugerahkan adalah pilihan pasti bagi orang-orang yang berakal.
Sabar ketika ditimpa nikmat. Ya, ini ujian sesungguhnya. Jika kita tak sabar, toh nikmat telah menimpa. Meski, jika sabar, kita akan beroleh tambahan kebaikan, tapi kebanyakan manusia, sering merasa cukup dengan apa yang telah didapat secara “real”. Sebagian kita, juga diri ini, sering dibutakan oleh materi, tak jarang menjadi pengikut materialisme, sehingga janji-janji kebaikan “abstrak” itu tak tergubris.
Sabar ketika ditimpa nikmat. Ya, itulah syukur. Kita sukses bersyukur, ketika kita bisa memahami konsep syukur itu secara benar dan mengaplikasakannya dengan terukur. Bagaimana kita bersyukur? Alhamdulillah? Benar. Sujud syukur? Bagus. Cium tangan dan pipi orang tua? Ga salah. “Lalu?”. Ya, tindak selanjutnya juga point utama. Mari kita arungi sama-sama luasnya kalimat singkat dari firman Allah ini :
“…jika kau bersyukur, niscaya akan Kutambah…”
Yakin dengan janji Allah? Percaya Allah tak menyalahi janji? Wajib! Sungguh, dalam kalimat ini ada janji yang harus dipatrikan dalam hati, dieratkan dalam peluk pikir, dan disongsong raga bergandeng jiwa. Jika kau bersyukur, niscaya akan Kutambah. Saya dulunya sempat berpikir, bahwa arti dari bersyukur adalah menerima dengan lapang dada atau bahkan dengan senang hati apa yang telah didapat. Ya, titik sampai di sini. “Lalu?” kata tanya ini belum terpikir sebelumnya.
Kemudian, bacalah! Bacalah firman Allah itu. Jika kau bersyukur, niscaya akan Kutambah. Ya, jika kita bersyukur, maka nikmat yang kita dapat akan ditambah. “Lalu?”. Ini menggambarkan bahwa, setelah bersyukur dengan pemahaman awal tadi, ada sebuah janji yang harus kita songsong dan perjuangkan. Tambahan. Ya, tambahan itu. Mau? Tentu! Oleh karena itu, dalam konsep syukur sesungguhnya, tindak selanjutnya adalah menargetkan tambahan itu, kemudian berusaha meraihnya. Misalnya, ketika hari ini mendapat IP tiga koma eks eks (3.xx), alhamdulillah, maka target berikutnya harus lebih dari itu! 3.80! 3.90! 4.00! Spesialis di jurusan! Jadi wisudawan terbaik! Ambisius kedengarannya?
Iya, boleh dibilang ambisius. Tapi mari kita baca kalimat di baris kedua tulisan ini. “jenius itu adalah kebodohan yang teraplikasikan dengan baik”. Maka izinkan saya memaknai ambisius kali ini adalah ambisius yang teraplikasikan dengan baik. Dengan kata lain, syukur itu adalah ambisius yang teraplikasikan dengan baik. Ya, dengan baik. Karena penargetan yang dilakukan adalah berdasarkan iman pada Allah, keyakinan akan janji-Nya, yang mana, dua terakhir ini, memberikan energi dalam setiap gerak, kerja, dan langkah kita. Jika parameter utama dalam menilai segala sesuatu adalah “benar-salah”, bukan “baik-buruk”, saya yakin, dalam konteks ini, syukur adalah ambisius yang teraplikasikan dengan baik dan benar, InsyaAllah. “Lalu?”. Tunggu apa lagi? Stop membaca tulisan ini! Segera syukur! Segera tuliskan targetmu! Mari bersyukur dengan benar!
“Syukur : aplikasi ambisi yang baik dan benar” -judul yang benar I-
natstan23









Comments