Umat ini, kita, terlalu banyak tertawa, sejak pagi datang hingga petang kembali.
Sudahkah sampai pada kita berita tentang saudara-saudari kita di Palestina? Mereka memperjuangkan kebebasan dengan darah dan tangis, sementara kita memaknai kebebasan dengan tawa dan canda.
Bukan tidak boleh, tapi ingatlah saudara-saudari kita yang menangis semalaman karena menahan lapar dan dingin, di kolong-kolong jembatan. Bukan tertawa, tapi mari ajaklah mereka untuk tersenyum bersama kita, sebagai sejatinya kebahagiaan.
Bukankah kita sudah sama-sama tahu, ada saudara-saudari kita yang tidak bisa tidur karena tidak punya kepastian esok akan makan atau tidak? Sementara kita, makan enak berlauk gelegak tawa tanpa makna.
Matahari menaik tinggi, gelap menarik diri, dan pelawak berganti topengnya. Kini mereka yang muda ambil andil. Kita lanjut tertawa. Bahkan, kadang, yang dewasa tidak memberi arti lebih bagi generasi berikutnya untuk memaknai banyolan-banyolan konyol nan tolol itu.
Jangan-jangan telah tertutup bagi telinga kita untuk mendengar kisah sepasang tangan yang menengadah pada setiap wajah-wajah gagah, dengan tiada lelah, kecuali merasa bersalah karena meletakkan tangan mereka di bawah tangan kita tanpa mendapati seulas senyum tulus meski tanpa fulus?
Sore. Petang menjelang adzan. Menunggu beduk, kita duduk terpingkal-pingkal melihat penceramah yang tak berarah, kecuali arah murah demi upah. Apa seperti itu ajaran keselamatan?
Ya, umat ini memang terlalu banyak tertawa. Bahkan ustadznya menyengaja agar para jamaah tertawa. Mari kita baca pesan-pesan nabi lagi, atau baca lagi siroh nabi. Adakah ia mengajarkan pada kita dengan canda dan tawa? Bukan. Sekali-kali tidak, melainkan sedikit saja. Sedikit saja, sekedar cukup. Selebihnya, beliau mencontohkannya dengan kesabaran dan senyum. Tersenyum, bukan tertawa, apalagi berlebihan.
Memang, canda kita butuhkan untuk melepaskan penat dan tegang. Demikian pun Nabi kita melakukannya. Pada waktu yang tepat, dengan kualitas candaan yang cukup baik, tak perlulah memperbanyak kuantitas canda dalam aktivitas kita. Apakah keceriaan itu ditandai dengan tertawa yang berlebihan? Terlalu mahal jika keceriaan itu dinilai dengan tawa, karena tersenyum itu lebih mudah dan murah.
Malam memekat. Bayangan mencekat. Kita masih berlanjut tertawa. Kita melihat lagi wayang orang tak berakal itu, di layar kaca itu, dan kita memuji-mujinya sebagai seorang yang paling mudah bahagia. Apa? Bahagia? Bukankah hari ini sebentar lagi mengakhiri perjalanannya di tengah-tengah gelap nan pekat? Gelap. Pekat. Mencekat. Tiadakah ketakutan pada diri kita akan kuasa-Nya yang bisa saja menjadikan gelap ini sebagai episode terakhir dalam hidup kita? Tapi kita lebih asyik tertawa daripada menangis.
Ah, padahal tetawa itu kan ketakutan yang tak terakui dan tidak ingin kita akui. Justru, menangis itulah kebahagiaan yang tidak pernah ada kata untuk mengungkapkannya.
Umat ini terlalu banyak tertawa. Belum tibakah peringatan tentang langit yang terbelah dan hari akhir yang semakin dekat? Tiada kebaikan bagi mata yang tak pernah menangis dan tiada kebijaksanaan bagi mulut yang terlalu banyak tertawa.









Comments