Masjid Baitul Maal STAN

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Umat Ini Terlalu Banyak Tertawa

E-mail Print PDF

Umat ini, kita, terlalu banyak tertawa, sejak pagi datang hingga petang kembali.

Sudahkah sampai pada kita berita tentang saudara-saudari kita di Palestina? Mereka memperjuangkan kebebasan dengan darah dan tangis, sementara kita memaknai kebebasan dengan tawa dan canda.

Bukan tidak boleh, tapi ingatlah saudara-saudari kita yang menangis semalaman karena menahan lapar dan dingin, di kolong-kolong jembatan. Bukan tertawa, tapi mari ajaklah mereka untuk tersenyum bersama kita, sebagai sejatinya kebahagiaan.

Bukankah kita sudah sama-sama tahu, ada saudara-saudari kita yang tidak bisa tidur karena tidak punya kepastian esok akan makan atau tidak? Sementara kita, makan enak berlauk gelegak tawa tanpa makna.

Matahari menaik tinggi, gelap menarik diri, dan pelawak berganti topengnya. Kini mereka yang muda ambil andil. Kita lanjut tertawa. Bahkan, kadang, yang dewasa tidak memberi arti lebih bagi generasi berikutnya untuk memaknai banyolan-banyolan konyol nan tolol itu.

Jangan-jangan telah tertutup bagi telinga kita untuk mendengar kisah sepasang tangan yang menengadah pada setiap wajah-wajah gagah, dengan tiada lelah, kecuali merasa bersalah karena meletakkan tangan mereka di bawah tangan kita tanpa mendapati seulas senyum tulus meski tanpa fulus?

Sore. Petang menjelang adzan. Menunggu beduk, kita duduk terpingkal-pingkal melihat penceramah yang tak berarah, kecuali arah murah demi upah. Apa seperti itu ajaran keselamatan?

Ya, umat ini memang terlalu banyak tertawa. Bahkan ustadznya menyengaja agar para jamaah tertawa. Mari kita baca pesan-pesan nabi lagi, atau baca lagi siroh nabi. Adakah ia mengajarkan pada kita dengan canda dan tawa? Bukan. Sekali-kali tidak, melainkan sedikit saja. Sedikit saja, sekedar cukup. Selebihnya, beliau mencontohkannya dengan kesabaran dan senyum. Tersenyum, bukan tertawa, apalagi berlebihan.

Memang, canda kita butuhkan untuk melepaskan penat dan tegang. Demikian pun Nabi kita melakukannya. Pada waktu yang tepat, dengan kualitas candaan yang cukup baik, tak perlulah memperbanyak kuantitas canda dalam aktivitas kita. Apakah keceriaan itu ditandai dengan tertawa yang berlebihan? Terlalu mahal jika keceriaan itu dinilai dengan tawa, karena tersenyum itu lebih mudah dan murah.

Malam memekat. Bayangan mencekat. Kita masih berlanjut tertawa. Kita melihat lagi wayang orang tak berakal itu, di layar kaca itu, dan kita memuji-mujinya sebagai seorang yang paling mudah bahagia. Apa? Bahagia? Bukankah hari ini sebentar lagi mengakhiri perjalanannya di tengah-tengah gelap nan pekat? Gelap. Pekat. Mencekat. Tiadakah ketakutan pada diri kita akan kuasa-Nya yang bisa saja menjadikan gelap ini sebagai episode terakhir dalam hidup kita? Tapi kita lebih asyik tertawa daripada menangis.

Ah, padahal tetawa itu kan ketakutan yang tak terakui dan tidak ingin kita akui. Justru, menangis itulah kebahagiaan yang tidak pernah ada kata untuk mengungkapkannya.

Umat ini terlalu banyak tertawa. Belum tibakah peringatan tentang langit yang terbelah dan hari akhir yang semakin dekat? Tiada kebaikan bagi mata yang tak pernah menangis dan tiada kebijaksanaan bagi mulut yang terlalu banyak tertawa.

Comments

avatar Valentina
0
 
 
apik !!aq pernah gedner yang tempatsampah dipake multifungsi..salah satunya ya dipake buat pot tanaman kayak gini sipp..jadi terpikir buat ngsh tau temen2 ristek buat ngrealisasiin ini ..
Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
avatar cialis
0
 
 
Paki, aunque con retraso, te comunico que todos los que lo solicist teis a trav s de los coemntarios est is admitidos/as

Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
avatar cheapest cialis
0
 
 
Paki, aunque con retraso, te comunico que todos los que lo solicist teis a trav s de los coemntarios est is admitidos/as

Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
Singe we are using terms for the states of qi in this dispute, the easiest way of contemplating this is according to wu xing theory, based specifically on the correlation of the tastes. The problem here is that in prepared form, both peanut butter and chocolate are harmonious mixtures, especially in the commercial forms being referenced. Both in prepared form are most easily considered sweet, which is earth aligned and therefore balanced in regards to yin and yang. However, they both have elements of their namesake original materials (Roasted Peanuts and Cocoa). Cocoa is easy to consider hear. In pure form, it is bitter. Bitter is the flavour associated with Fire and the South, being peak Yang. It is also a mild stimulant, which is also makes it associated with yang. Peanuts are much trickier. In general, the natural flavour of peanuts is at most sweet, besides their association with the earth. However, the roasting process often makes an association with salt (associated with peak yin). Therefore, peanuts are Earth modified slightly towards yin. Therefore, since chocolate is clearly more yang than peanuts, in this situation (which has been mitigated extensively by preparation), the chocolate comes out as the yang principal.

Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
Sorry, Gayleen, but I side with Cori and DCPS here.Under all the metaphysical bafflegab, Grymm the Pleasant is making an argument based on the premise that peanut butter is sweeter and darker than chocolate. That is only true if you compare the very sweetest commercial peanut butter (the kind that has icing-sugar added to a hydrogenated mixture) to the very least sweet chocolate (unsweetened bakers chocolate that has been aging long enough to develop a whitish film on top).Nobody with taste eats either of these things. I am surprised that someone like you, who rails against the low standards of popular culture, would fall into such a plebian trap.If you compare natural peanut butter to a Bernard Callebaut confection, it is clear that chocolate is yin and peanut butter is yang.QED

Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
You are here: