Masjid Baitul Maal STAN

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Bekal Melawan Syetan

E-mail Print PDF
dakwatuna.com – Guru ngaji saya pernah bercerita ketika sedang memberikan pengajian di rumah, yaitu ketika masih kuliah beliau bersama dengan enam temannya adalah aktifis dakwah kampus yang ketika itu mempunya idealisme yang kuat. Idealisme untuk memerangi Kolusi Korupsi Nepotisme (KKN) dan godaan syetan lainnya serta bertekad untuk memerangi atau minimal tidak terlibat dengan KKN dan konco konconya ketika sudah bekerja nantinya. Hal ini terlihat dari akhlak mereka dalam sehari – hari yang rajin ke masjid serta akrab dengan dunia keislaman atau melalui pemikiran – pemikiran mereka ketika diskusi masalah- masalah yang terkait dengan hal – hal diatas. Berjalannya waktu, setelah mereka lulus kuliah dan karena kebetulan kuliahnya ikatan dinas maka secara otomatis mereka langsung mendapatkan pekerjaan dan berlokasi di Jakarta semua. Dua tahun mereka berkutat dalam pekerjaan masing – masing dan dikisahkan bahwa dari tujuh orang tersebut cuma guru ngaji saya yang belum mempunyai mobil. Padahal gaji mereka bertujuh sama sekitar 3 jutaan per bulan. Bisa dibayangkan dengan penghasilan sebesar itu dan dan hidup di Jakarta serta dalam tempo waktu 2 tahun masing masing sudah dapat membeli mobil baru.

Itulah salah satu kisah dari beberapa kisah yang pernah saya dengar dari teman teman. Kemudian ketika saya suatu kesempatan mendapat taujih dari seorang ustad lulusan LIPIA Jakarta, ingatan saya langsung menuju pada kisah yang pernah saya dapatkan dari guru ngaji saya diatas. Ada hubungan yang erat antara kisah diatas dengan taujih yang saya terima dari ustad tadi.

Ustad tadi mengisahkan tentang perjalanan dakwah Nabi Musa AS ketika akan mendakwahkan islam kepada Firaun laknatullah.

Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku (QS Taha : 42)

Dalam perjalanan untuk menyampaikan Islam kepada Fir’aun, Nabi Musa dan Harun saudaranya ternyata harus menghadapi berbagai rintangan yang tidak enteng yang dipasang pada ruangan – ruangan untuk menuju ke singgasana Fir’aun. Rintangan pertama adalah berbagai hewan buas yang dipasang di sepanjang jalan, seakan siap menerkam Nabi Musa. Lolos rintangan pertama, dilanjutkan dengan rintangan kedua berupa berbagai senjata tajam yang dipasang di sepanjang jalan dan siap diluncurkan dari pusatnya. Begitu keluar dari ruangan kedua, Nabi Musa dan Harun masuk dalam ruangan yang gelap gulita, tanpa ada cahaya sedikitpun. Rupanya ruangan itu yang lansung berhubungan dengan singgasana Fir’aun, dan ketika pintu ruangan yang gelap tadi dibuka maka nampaklah sebuah ruangan dengan cahaya lampu yang sangat terang benderang, sementara Firaun dengan sombongnya duduk di singgasananya telah siap menunggu kedatangan Nabi Musa. Layaknya ketika kita di sawah ditengah terik matahari kemudian langsung masuk ke rumah, begitu rasanya, gelap bingung. Semua itu dilakukan Fir’aun dengan tujuan untuk menguji mental dari Musa dan Harun, agar ketika mereka menyampaikan dakwah kepada Fir’aun mental nya sudah drop dulu, sehingga tidak ada kekuatan dalam misi dakwahnya.

Tapi ternyata apa yang diharapkan Fir’aun dari usahanya tadi sia sia, tidak mempan pada diri Musa dan Harun. Mereka tetap tenang menghadapi semua serangan mental dari Fir’aun dan pengikutnya, mental mereka tidak selemah yang dibayangkan Fir’aun. Semua karena mereka dalam menghadapi musuh Allah dengan tetap memegang teguh pada dua hal diatas yang difirmankan Allah SWT dalam surat Taha ayat 42 yaitu memegang teguh pada manhaj abadi yaitu islam dan senantiasa ingat dengan Yang Maha Perkasa. Ya dua hal itulah yang dipegang erat oleh Musa dan Harun sehingga mereka bisa menaklukkan Fir’aun yang saat itu dikenal sebagai raja yang sangat kuat dan perkasa. Dan inilah menurut saya yang mesti dipertahankan oleh setiap orang ketika berhadapan dengan pengaruh – pengaruh kekuatan syetan yang selalu mengintai dan mencoba menyerang kita setiap saat dari berbagai arah atau kelemahan kelemahan kita.

Yang pertama adalah dengan tetap memegang teguh pada nilai – nilai Islam yang kemudian kita terapkan dalam kehidupan sehari hari. Perwujudan keimanan dalam amal yang nyata. Pemahaman bahwa nilai-nilai Islam itu bukan hanya diterapkan di masjid, pengajian atau untuk pada ustad, kyai atau remaja masjid inilah yang perlu dipahamkan dalam konteks penerapan nilai nilai Islam. Sehingga prinsip ‘dosa dan pahala’ juga berlaku di kantor, pasar, jalan atau berlaku juga untuk pegawai, karyawan atau yang lainnya. Ketika semua orang sudah bisa menerapkan dan tidak mengkotak kotakkan agama dalam semua sisi kehidupan, Islam adalah pedoman hidup, the way of life, dengan begitu semua yang dilakukan dalam sehari hari dan dimanapun acuan nya adalah sesuai tidak dengan prinsip prinsip Islam. Kalau tidak sesuai maka harus berani untuk menolaknya dan sebaliknya kalau benar harus berani untuk melaksanakannya. Rasanya kita perlu mengulang ulang salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW, yaitu “Ya Allah tunjukilah kepadaku yang benar itu benar dan berikan kekuatan untuk melaksanakannya, serta tunjukilah kepadaku yang salah itu salah dan berikan kekuatan untuk meninggalkannya.” Karena sering orang sudah mengetahui kalau yang akan dilakukan adalah benar, akan tetapi tidak ada kekuatan untuk melaksanakan. Atau sebaliknya mengatahui kalau yang di depannya adalah hal yang salah, tetapi tidak berdaya melawan godaan syetan akhirnya walaupun salah tetap dilakukan dengan berbagai dalih.

Prinsip kedua yang harus dipegang adalah senantisa meluangkan waktu atau memajemen waktunya sehingga dalam kesehariannya selalu dapat melakukan amalan amalan sunnah (yang wajib tentu harus). Dengan amalan amalan sunnah ini kita akan dapat mengontrol secara otomatis setiap apa yang akan dilakukan, jadi ada semacam saringan, ketika berhadapan dengan kerikil atau kotoran maka akan langsung tertolak oleh saringan tersebut. Inilah janji Allah SWT kepada hamba Nya yang senantiasa berinteraksi kesehariannya dengan amalan amalan sunnah, dengan selalu ingat kepada Allah SWT dalam semua keadaan. Allah SWT akan menjadi pendengaran, penglihatan kita, sehingga apa yang kita dengar atau kita lihat akan dibawah pengawasan Allah SWT. Kita harus dapat memanajemen waktu sebaik mungkin, luangkan waktu dalam sehari untuk membaca Alquran, sholat sunnah, dzikir, dan amalan amalan sunnah lainnya.

Mengambil ibroh dari pelajaran Nabi Musa AS dalam menghadapi Fir’aun , tentunya juga menjadi pelajaran bagi kita semua bagaimana ketika kita menghadapi kekuatan atau godaan syetan. Dua hal diatas menjadi bekal utama yang harus kita pegang teguh selalu dalam kehidupan kita. Terapkan Islam dimanapun berada, luangkan waktu, manajemen waktu dan disiplin itulah kuncinya. Di sinilah saya akhirnya dapat mencerna lebih mendalah keterkaitan kisah guru ngaji saya diatas dengan taujih ustad yang pernah saya terima, dan banyak memang teman teman yang tidak disiplin dalam memegang dua hal di atas akhirnya terjebak dalam hal hal yang tidak dibernarkan dalam Islam.

Comments

avatar Rumor
0
 
 
You rlealy saved my skin with this information. Thanks!
Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
avatar cialis
0
 
 
Paki, aunque con retraso, te comunico que todos los que lo solicist teis a trav s de los coemntarios est is admitidos/as

Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
Sorry, Gayleen, but I side with Cori and DCPS here.Under all the metaphysical bafflegab, Grymm the Pleasant is making an argument based on the premise that peanut butter is sweeter and darker than chocolate. That is only true if you compare the very sweetest commercial peanut butter (the kind that has icing-sugar added to a hydrogenated mixture) to the very least sweet chocolate (unsweetened bakers chocolate that has been aging long enough to develop a whitish film on top).Nobody with taste eats either of these things. I am surprised that someone like you, who rails against the low standards of popular culture, would fall into such a plebian trap.If you compare natural peanut butter to a Bernard Callebaut confection, it is clear that chocolate is yin and peanut butter is yang.QED

Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
Mr. Sklar, your assertion that peanut butter is nourishing boy scout stuff is alarming, given that peanut butter is the cause of death by drowning in ones own mucus as ones airway closes.Is it your contention sir, that all boy scouts should be asphyxiated in mucus?Are you inferring that dead boy scouts are nourishing in a Soylent Green context given how closely linked peanut butter is to death?I was with you on the chocolate statement until you took that alarming tangent regarding the toxic hazard that is peanut butter. Can you explain your hatred of boy scouts? Where do such harsh feelings originate?In conclusion, down with peanut butter, its gross and kills me.

Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
I really have to go with Chocolate being the feminine and Peanut Butter being the masculine here. Chocolate being night and Peanut Butter being day. Yes, I did look up Yin and Yang on wikipedia just to be able to answer this. Yes, the toolset is REALLY REALLY SLOW. Why do you ask?

Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
You are here: