Masjid Baitul Maal STAN

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Menumbuhkan Kesadaran Akan Islam Liberal

E-mail Print PDF

 

Tanggal 22 Januari 2011, tepatnya hari Ahad, tampak suasana Gedung I yang berbeda. Terlihat di dalamnya seperti sebuah bazar buku digelar, dan di dalam ruang kelas, tampak seorang pembicara duduk di sebuah sofa. Pada hari itu digelar acara yang sangat menarik yaitu Bedah Buku Islam Liberal 101 dengan menghadirkan penulisnya yaitu Akmal Sjafril, M.Pd.I.. Acara ini didukung oleh BABM, Perpustakaan MBM, Fatahillah MBM, serta BMC. 

Akmal Sjafril, M.Pd.I., penulis buku Islam Liberal 101 ini menyatakan bahwa tujuan pembuatan buku ini setidaknya dapat menumbuhkan kesadaran akan keberadaan islam yang liberal. Dengan buku ini sebagai pijakan awal, peserta bedah buku diharapkan dapat menaikkan "level"-nya, sehingga wawasan tentang Islam yang liberal dapat terus berkembang, walaupun diingatkan juga bahwa tidak harus semua dari kita berfokus pada Islam liberal, karena sesunggunya kashanah keislamaan sangat luas.Akmal_S

 

 

 

Acara bedah buku yang berlangsung sampai Dzuhur ini tampaknya begitu menarik bagi para peserta bedah buku. Terlihat dari antusisme para peserta bedah buku yang berusaha mengajukan pertanyaan. Walaupun tidak kesemuanya mendapat kesempatan. Peserta yang mengajukan pertanyaan yang dinilai berbobot oleh pembicara mendapat doorprize menarik dari panitia. Bagi yang belum berkesempatan hadir, ataupun belum memiliki buku Islam Liberal 101, tidak perlu kecewa, silahkan mengunduh file presentasi selama bedah buku untuk mendapatkan gambaran dari buku Islam Liberal 101, yang dapat di unduh pada alamat yang tertera pada akhir posting ini.

Acara ini juga, ternyata tidak hanya menarik bagi mahasiswa STAN, beberapa peserta berasal dari universitas yang berada di sekitar STAN ikut meramaikan acara ini. Beberapa mahasiswa yang hadir adalah mahasiswa Ismed STIE, AMG, dan STEI SEBI. Pegawai BPKP pun tampaknya tertarik untuk mengkaji masalah Islam Liberal. Tidak hanya itu saja, tertulis di daftar hadir peserta bedah buku ini terdapat seorang Mahasiswa yang berasal dari Teknik Kimia UGM. Tetapi setelah diklarisifikasi, ternyata saudara kita yang hadir jauh-jauh dari Yogyakarta ini, bukan mengkhususkan diri untuk menghadiri bedah buku, tetapi ternyata kebetulan sedang berkunjung ke STAN saja dan diajak temannya yang mahasiswa STAN ke acara bedah buku ini.
Peserta_Bedah_buku_IsLib

Pada akhir sesi, kita diingatkan oleh pembicara, jika kita benar-benar ingin membantu para penulis, penulis muslim khususnya, agar lebih banyak menerbitkan karya-karyanya, maka sangat dianjurkan untuk membeli karya-karya asli para penulis, atau dengan bahasa lebih sederhana janganlah membeli buku bajakan, apalagi jika kita ingin penulis favorit kita untuk terus berkarya. Selamat membeli buku.

 

 

Alamat unduh file Presentasi Bedah Buku Islam Liberal 201
http://www.4shared.com/file/TTukQvbk/111202_-_Mengenal_Islam_Libera.html

Comments

avatar Shalanda
0
 
 
pesan saya jangan nbayak baca buku tapi baca dr internet aja buku dibuat dari kertas kertas dari pohon semakin nbayak kertas semakin bnyak pohon yang ditebang semakin nbayak pohon ditebang smakin panaslah bumi so jangan beli buku buku hanya memperparah global warming ada sumber2 lain selain buku []pecinta ebook Reply:August 22nd, 2011 at 08:57setuju saatnya membaca lewat ebook buat apa pake buku ..zaman dah berubah [] Reply:August 22nd, 2011 at 15:16kalau menurutku, semestinya kita tak meniadakan buku karena nbayak pohon yg ditebang. saat ini kita belum bisa benar-benar mengubah lembaran kertas menjadi e-book dan atau kindle untuk bisa dijangkau nbayak orang di dunia. zaman memang sudah berubah, akan tetapi belum benar-benar berubah. boleh jadi hanya kita saja yang sudah akrab dengan teknologi digital. tetapi bagaimana dengan mereka yang masih butuh buku untuk meningkatkan pengetahuan dan kebijaksanaan hidupnya?yang realistis adalah kita tetap melakukan penanaman kembali, tindakan tegas pemerintah thd penebangan yang melanggar ketentuan (ilegal maupun legal).[]
Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
avatar cialis on line
0
 
 
Paki, aunque con retraso, te comunico que todos los que lo solicist teis a trav s de los coemntarios est is admitidos/as

Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
Paki, aunque con retraso, te comunico que todos los que lo solicist teis a trav s de los coemntarios est is admitidos/as

Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
Singe we are using terms for the states of qi in this dispute, the easiest way of contemplating this is according to wu xing theory, based specifically on the correlation of the tastes. The problem here is that in prepared form, both peanut butter and chocolate are harmonious mixtures, especially in the commercial forms being referenced. Both in prepared form are most easily considered sweet, which is earth aligned and therefore balanced in regards to yin and yang. However, they both have elements of their namesake original materials (Roasted Peanuts and Cocoa). Cocoa is easy to consider hear. In pure form, it is bitter. Bitter is the flavour associated with Fire and the South, being peak Yang. It is also a mild stimulant, which is also makes it associated with yang. Peanuts are much trickier. In general, the natural flavour of peanuts is at most sweet, besides their association with the earth. However, the roasting process often makes an association with salt (associated with peak yin). Therefore, peanuts are Earth modified slightly towards yin. Therefore, since chocolate is clearly more yang than peanuts, in this situation (which has been mitigated extensively by preparation), the chocolate comes out as the yang principal.

Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
Sorry, Gayleen, but I side with Cori and DCPS here.Under all the metaphysical bafflegab, Grymm the Pleasant is making an argument based on the premise that peanut butter is sweeter and darker than chocolate. That is only true if you compare the very sweetest commercial peanut butter (the kind that has icing-sugar added to a hydrogenated mixture) to the very least sweet chocolate (unsweetened bakers chocolate that has been aging long enough to develop a whitish film on top).Nobody with taste eats either of these things. I am surprised that someone like you, who rails against the low standards of popular culture, would fall into such a plebian trap.If you compare natural peanut butter to a Bernard Callebaut confection, it is clear that chocolate is yin and peanut butter is yang.QED

Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
Mr. Sklar, your assertion that peanut butter is nourishing boy scout stuff is alarming, given that peanut butter is the cause of death by drowning in ones own mucus as ones airway closes.Is it your contention sir, that all boy scouts should be asphyxiated in mucus?Are you inferring that dead boy scouts are nourishing in a Soylent Green context given how closely linked peanut butter is to death?I was with you on the chocolate statement until you took that alarming tangent regarding the toxic hazard that is peanut butter. Can you explain your hatred of boy scouts? Where do such harsh feelings originate?In conclusion, down with peanut butter, its gross and kills me.

Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
You are here: